Curhat Pasif

Ini credit to Shasha banget deh, udah 'ngenalin' gw sama istilah ini: curhat pasif.

Apa itu curhat pasif? Curhat pasif adalah curhat 'males' di mana lo nggak harus ngoceh nggak karuan, berharap ada yang mau dengerin dan ngertiin. Bukan males curhat tapi ya, bedain.

Dalam curhat pasif, mulut lo bungkam, tapi ada kepuasan dan kelegaan hati yang setara dengan curhat aktif. Contoh aktivitasnya adalah baca buku, dengerin lagu, nonton film, cari quote, dengerin cerita orang, dll.

Sama kaya curhat aktif, ada kalanya ada rasa nggak nyaman saat curhat. Contohnya, waktu marathon baca "Divortiare" dan "Twivortiare". Ini murni pendapat pribadi ya. Menurut gw, walaupun bagus, tapi nggak 'klik' aja di gw.

Duh, gimana ya ngejelasinnya? Gini, kebayang nggak sih, kaya lagi curhat sama orang, tapi bukannya bikin lega, malah bikin 'ganjel' karna nggak 'sreg' sama komentar-komentarnya. Tapi bukan berarti jadi nyesel udah curhat, cuma nggak 'matching' aja. Ah, bingung. Gitu deh pokoknya, ahaha.

Di sebuah pembahasan bareng Shasha, berawal dari wondering "kenapa ya gw suka Ika Natassa, bahkan tiap hari buka timeline nya, suka banget "Antologi Rasa", tapi nggak terlalu suka "Divortiare" sama "Twivortiare"? Kaya... nggak nyaman aja", si Shasha berkesimpulan bahwa:


Dari pembahasan panjang lebar, mulai dari buku "What I Talk About When I Talk About Running" dan segala insight nya sampe dorama-dorama pembunuhan dan misteri yang terinspirasi dari novel, kita sepakat bahwa ada hal-hal dari penulis yang mungkin tanpa sadar 'masuk' dalam tulisannya.

Itulah kenapa kalo kata gw, "you can tell people by their writings", dan kalo  kata Shasha "you are what you write, not read" Ya intinya sama sih, cuma beda kalimat doang.

Tiap tulisan, baik fiksi maupun non-fiksi, bisa 'curhat' juga, yang cuma bisa didengar oleh orang yang baca, selama dia bener-bener menyimak.

Semacam... cerita yang bercerita. Cerita di balik cerita. Cerita dalam cerita. Ceritaception. Atau apa lah namanya, di mana seakan-akan cerita itu hidup dan menceritakan cerita yang lain: cerita tentang sang penulis, meskipun si penulis sendiri nggak lagi nulis tentang dirinya.

Ini berkembang banget deh pembahasannya. Tadi kan gw mau ngebahas tentang curhat pasif. Yaaa.. tapi masih berhubungan sih.

Nah, beberapa hari ini, gw punya tempat curhat pasif baru, namanya "L". Sebuah buku.

Mau cerita sedikit tentang buku ini. Jadi, duluuu.. banget gw pernah baca "L", tapi ngga selesai. Kenapa? Karna itu buku pinjeman, dan berhubung gw anaknya kalo baca suka setengah-setengah, walhasil, udah keburu dibalikin saat lagi kentang-kentangnya. Yanasib, apa boleh buat.

Ini buku 'nyangkut' banget selama bertaun-taun. Gw nggak bosen-bosennya penasaran. Tiap kali melanglang buana ke toko buku atau book fair, kalo lagi inget, pasti gw nyari ini buku, tapi nggak nemu-nemu, sampai suatu hari...

Waktu lagi jalan-jalan di Twitter, gw liat lupa-siapa ngelink website yang lagi buka garage sale buku via online. Penasaran lah gw. Lagi iseng liat-liat, eeeh.. nemu!

Tanpa pikir panjang, langsung gw email, pesen, transfer, dan singkat kata, bukunya sampe 2 hari kemudian. Ah, senangnyaaa!

Puas banget deh mesen di sini. Sebagai pelanggan yang baik, kalo dilayanin dengan baik, udah seharusnya kasih testimonial yang baik kan? Dan nggak lupa terima kasih. Jadi, makasih ya, Mbak Nyonyabuku :D

Gw beli buku "L" ini dengan harga murah. Buku second sih, tapi kondisinya masih bagus dan rapi tersampul, dan ada bonus pesan:
"'The worst thing about new books is that they keep us from reading the old ones,' said Joseph Joubert. So, thank you for picking this lovable book as your new friend"
Hihi, your welcome. And thank you for delivering new friend, an old-but-new curhat pasif friend. Hello, dear L :)

Jadi, begitulah. Intinya, gw seneng banget akhinya misi pencarian buku "L" selesai. Horai! Banzai!

Ah emang deh insting tuh nggak pernah salah. Ini buku emang sesuai banget sama mood 'pengen curhat pasif' gw. Dan bermodal insting itu pula, gw 'mengarahkan sekaligus diarahkan' untuk 'curhat pasif' di saat yang tepat. Gw blom selesai sih bacanya, tapi sampe tengah, gw cukup 'fulfilled'.

Walaupun dengan konflik cerita yang super beda sama kehidupan gw, tapi entah gimana, dengan cara yang aneh, buku "L" ini bisa merangkum sekaligus menjawab 'kegelisahan' gw. Bingung ngejelasinnya, hehe.

Btw, labil deh ini. Mau ngelarin "The Very Yuppy Wedding" tapi baru halaman-halaman pertama udah 'nggak nyaman' tapi terobsesi buat baca semua bukunya Ika Natassa (masih blom lengkap sih, "Underground" blom punya) tapi lagi nggak mood tapi ngejar target Februari kelar tapi tapi tapi...

Ah elah, ribet.

Comments